the peoples of the boxes

October 31st, 2006 by jenanboyz

Solat2_3

There were once some people who all saw their lives like empty boxes.
They looked all around the world, collecting up the things they liked.
They filled their lives and empty boxes with the goodies that they gathered
And they all felt in control, content, and they all felt alright.
Then they climbed inside their boxes and they settled with their trinkets.
They neither looked, nor learned much more and closed their lids up tight.
Once they’d fastened up their boxes they smiled there inside,
and they all thought in their darkness that the world was clear and bright.
But the world is not a box.
There’s no lid, no doors, no cardboard flaps or locks,
and everything in nature from the clouds to the rocks
is a piece of the puzzle of the purpose of mankind.
It’s a piece of the peace that we’ll find.

Along came a wondering wise man whispering such words of truth,
who stumbled on these boxes, so separate side by side.
He knocked upon the first one saying, “Please come out and feel the day.”
An answer came from deep within, “You’re not of us please go away.”
He approached the second box and tapped thrice on the lid saying,
“Peace to you inside, shall I show you a new way?”
Someone peeked out from a crack and said, “You may just have a point,
but it’s so comfy in my box, in my box here I will stay.”
But the world is not a box.
There’s no lid, no doors, no cardboard flaps or locks,
and everything in nature from the clouds to the rocks
is a piece of the puzzle of the purpose of mankind.
It’s a piece of the peace that we’ll find.

He stood before the final box, a hiding face peeked out to him,
and much to his surprise, he said “I recognize those eyes!
I see you and you see me so why not come out and be free?
Faith and flowers wilt and die if they are hidden from the sky!
`Cause the world is not a box.
There’s no lid, no doors, no cardboard flaps or locks,
and everything in nature from the clouds to the rocks
is a piece of the puzzle of the purpose of mankind.
It’s a piece of the peace that we’ll find.”

Now centuries lie between all the prophets and you and I.
Civilizations are born and die each and every day.
We see good and bad and happy-sad and mad mistakes
we wish we hadn’t made in our attempt to try and live up to their way.
But if we hide ourselves away, afraid to grow and learn,
we might wake up in the flames of the ignorance that burns,
and we’ll never be much more than only casualties of war
in a struggle we can’t win if we have no faith to begin.
We’ve got to tip the lid and let some sunlight in,
`Cause the world is not a box.
There’s no lid, no doors, no cardboard flaps or locks,
and everything in nature from the clouds to the rocks
is a piece of the puzzle of the purpose of mankind.
It’s a piece of the peace that we’ll find.

Words and melody:D.Wharnsby

Kaifiyyat Takbir Hari Raya

October 22nd, 2006 by jenanboyz

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Dan hendaklah kalian
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, mudah-mudahan kalian mau
bersyukur”.
(QS. 2/185)

Telah terdapat riwayat, “Nabi
Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah keluar pada hari raya Idhul Fithri,
beliau bertakbir, ketika mendatangi mushalla sampai selesainya shalat,
apabila shalat telah selesai, maka beliau menghentikan takbirnya.” [1].

Berkata
Syaikh Al Albani : “Dalam hadits ini ada dalil disyari’atkannya
melakukan takbir dengan suara jahr (keras) di jalanan ketika menuju
mushalla sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Meskipun
banyak dari mereka mulai menganggap remeh sunnah ini hingga
hampir-hampir sunnah ini sekedar menjadi berita.”

Termasuk yang
baik untuk disebutkan dalam kesempatan ini adalah bahwa mengeraskan
takbir disini tidak disyari’atkan berkumpul atas satu suara
(menyuarakan takbir secara serempak dengan dipimpin seseorang -pent)
sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Demikian pula setiap dzikir
yang disyariatkan untuk mengeraskan suara ketika membacanya atau tidak
disyariatkan mengeraskan suara, maka tidak dibenarkan berkumpul atas
satu suara seperti yang telah disebutkan. Hendaknya kita hati-hati dari
perbuatan tersebut, dan hendaklah kita selalu meletakkan di hadapan
mata kita bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Waktu-Waktu Bertakbir

Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya
(kapan kaum muslimin diperintahkan takbir di kedua hari raya – pent),
maka beliau rahimahullah menjawab: “Segala puji bagi Allah, pendapat
yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli
fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah:
Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai
akhir hari Tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap
selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk
mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini
merupakan kesepakatan para imam yang empat”. [2]

Ibnu Umar
dahulu apabila pergi keluar pada hari raya Idhul Fithri dan Idhul Adha,
beliau mengeraskan ucapan takbirnya sampai ke mushalla, kemudian
bertakbir sampai imam datang. [3].

Ucapan beliau rahimahullah:
‘(dilakukan) setelah selesai shalat’ -secara khusus tidaklah dilandasi
dalil. Yang benar, takbir dilakukan pada setiap waktu tanpa
pengkhususan. Yang menunjukkan demikian adalah ucapan Imam Bukhari
dalam kitab ‘Iedain dari “Shahih Bukhari” 2/416 : “Bab Takbir pada
hari-hari Mina, dan pada keesokan paginya menuju Arafah”.

Umar
Radliallahu ‘anhu pernah bertakbir di kubahnya di Mina. Maka
orang-orang yang berada di masjid mendengarnya lalu mereka bertakbir
dan bertakbir pula orang-orang yang berada di pasar hingga kota Mina
gemuruh dengan suara takbir.

Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina
pada hari-hari itu dan setelah shalat (lima waktu), di tempat tidurnya,
di kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu
seluruhnya.

Maimunnah pernah bertakbir pada hari kurban, dan
para wanita bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul
Aziz pada malam-malam hari Tasyriq bersama kaum pria di masjid.

Pada
pagi hari Idul Fitri dan Idul Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga
ia tiba di mushalla, kemudian ia tetap bertakbir hingga datang imam. [4]

Tata Cara dan Ucapan Bertakbir

Sepanjang
yang aku ketahui, tidak ada hadits nabawi yang shahih tentang tata cara
takbir. Yang ada hanyalah tata cara takbir yang di riwayatkan dari
sebagian sahabat, semoga Allah meridlai mereka semuanya.

Seperti
Ibnu Mas’ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh : Allahu Akbar Allahu
Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil
hamdu. (Yang artinya) : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada
sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha
Besar, dan untuk Allah segala pujian”. [5]

Sedangkan Ibnu Abbas
bertakbir dengan lafadh : Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa
lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajallu Allahu Akbar ‘alaa maa hadanaa.
(yang artinya) : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia,
Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita”. [6]

Abdurrazzaq
- dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam “As Sunanul Kubra” (3/316) -
meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Salman Al- Khair Radliallahu
anhu, ia berkata : (yang artinya) : “Agungkanlah Allah dengan
mengucapkan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira”.

Banyak
orang awam yang menyelisihi dzikir yang diriwayatkan dari salaf ini
dengan dzikir-dzikir lain dan dengan tambahan yang dibuat-buat tanpa
ada asalnya. Sehingga Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam
“Fathul Bari (2/536): “Pada masa ini telah diada-adakan suatu tambahan
dalam dzikir itu, yang sebenarnya tidak ada asalnya”.

Ucapan Selamat Hari Raya

Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada hari raya maka
beliau menjawab [7]: “Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang
mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Id:
Taqabbalallahu minnaa wa minkum (yang artinya): Semoga Allah menerima
dari kami dan dari kalian” Wa ahaalallahu ‘alaika.

Dan ucapan
selainnya, ini telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat bahwa mereka
mengerjakannya. Dan para imam memberi rukhshah untuk melakukannya
seperti Imam Ahmad dan selainnya, akan tetapi Imam Ahmad berkata: “Aku
tidak pernah memulainya mengucapkan selamat kepada seorang pun, namun
bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya,
karena menjawab tahiyyah (ucapan selamat) hukumnya wajib. Adapun
mendahuluinya, dengan mengucapkan tahniah (ucapan selamat) bukanlah
sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa
mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya
baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.” [8]

Berkata Al Hafidh
Ibnu Hajar [9] : “Dalam ‘Al Mahamiliyat’ dengan isnad yang hasan dari
Jubair bin Nufair, ia berkata (yang artinya): Para sahabat Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata
sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minkum
(Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.

Ibnu Qudamah
dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata:
“Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan
sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari
shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain: Taqabbalallahu
minnaa wa minka.”

Imam Ahmad menyatakan: “Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)” [10]

Adapun
ucapan selamat : (Kullu ‘aamin wa antum bikhair) atau yang semisalnya
seperti yang banyak dilakukan manusia, maka ini tertolak tidak
diterima, bahkan termasuk perkara yang disinggung dalam firman Allah
(yang artinya) : “Apakah kalian ingin mengambil sesuatu yang rendah
sebagai pengganti yang lebih baik.?”

Catatan Kaki:

[1]
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf, al Muhamili
dalam Shalatul ‘Idain dengan sanad sahih tetapi mursal. Riwayat
tersebut memiliki syahid/penguat yang menguatkan riwayat tersebut.
Lihat Silsilah al Ahadits ash Shohihah (170). Takbir pada Idul Fithri
dimulai pada waktu keluar menunaikan shalat Id

[2] Majmu Al -Fatawa 24/220 dan lihat ‘Subulus Salam’ 2/71-72

[3] HR Ad Daraquthni dan Ibnu Abi Syaibah dan selain mereka dengan sanad yang shahih. Lihat Irwa ‘ul Ghalil 650

[4] Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni, Ibnu Abi Syaibah dan selainnya dengan isnad yang shahih. Lihat “Irwaul Ghalil’ 650

[5] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih

[6] Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih

[7] Majmu Al-Fatawa 24/253

[8]
Dicantumkan Jalaluddin As Suyuthi menyebutkan dalam risalahnya ” Wushul
Al Amani bi Ushul At Tahani” beberapa atsar yang berasal lebih darisatu
ulama Salaf, di dalamnya ada penyebutan ucapan selamat. Kitab itu
dicetak bersama ; Al Haari lil Fatawa 1/81-82, merujuklah padanya.
Lihat pula al Maudhu’ fi Ma’rifatul Hadits al Maudhu’ oleh Al ‘Allamah
‘Ali al Qaari (87) dengan ta’liq muhaqiq atasnya

[9] Fathul Bari 2/446

[10] Lihat Al Jauharun Naqi 3/320. Berkata Suyuthi dalam ‘Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan

Kajian ucapan EId menurut hadith dan fiqh

October 22nd, 2006 by jenanboyz

Oleh : Abi AbduLLAAH, Nabil bin Fuad Al-Musawa

Kajian Hadits

Syaikh
Albani berkata [1]: “Hadits di atas dicantumkan oleh As Suyuthi dalam
risalahnya [2], dan diperkuat oleh Zahir bin Thahir [3].  Diriwayatkan
juga oleh Al-Mahamili [4], ia berkata: Telah menceritakan pada kami
Mubasysyir bin Isma’il Al-Halbi dari Shafwan bin Amru As-Saksakiy
berkata: “Aku mendengar AbduLLAH bin Bisru, AbduRRAHMAN bin ‘Aidz,
Jubair bin Nufair dan Khalid bin Ma’dan berkata pada kedua Hari Raya:
Taqabbalallahu minnaa wa minkum dan mereka mengkatakan demikian
diantara mereka.” Dikeluarkan juga oleh Abul Qasim Al-Asbahani [5] dan
2 riwayat ini shahih, karena para sahabat melakukan ini, sehingga
diikuti oleh para tabi’in yang disebut di atas, waLLAHu a’lam.

Ibnu
Turkmani menyebutkan [6] dari riwayat Muhammad bin Ziyad Al-Alhani
berkata: “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari
kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila
kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain:
Taqabbalallahu minnaa wa minka [7].” Dan diperkuat oleh As-Suyuthi
dengan matan: “Aku melihat Abu Umamah Al-Bahiliy berkata pada Hari Ied
kepada sahabatnya: Taqabbalallahu minnaa wa minkum.” Kemudian sebagian
ikhwah kami para pelajar menambahkan bahwa telah berkata Al Hafizh Ibnu
Hajar [8]: “Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair
bin Nufair, ia berkata dst.” [Sekian Kutipan dari Albani]

Adapun
riwayat dari Tabi’ut Tabi’in dan Ulama Salaf diantaranya, seperti
riwayat Adham salah seorang bekas hamba sahaya Umar bin Abdul ‘Aziz
berkata: “Kami mengucapkan saat kedua Hari Raya kepada Umar bin Abdul
Aziz: Taqabbalallahu minnaa wa minka wahai Amirul Mu’minin, maka beliau
menjawabnya dan tidak melarang kami mengucapkan hal tersebut [9].”

Kajian Fiqh

Menurut
Ulama Hanafiyyah bahwa hal tersebut tidak diingkari (la inkara bihi)
dan boleh (ijaza) mengucapkannya [10]; menurut Ulama Malikiyyah tidak
apa-apa menjawabnya, berkata Imam Malik: Aku tidak mengenalnya tapi aku
juga tidak mengingkarinya. Berkata Ibnu Habib: Aku melihat
sahabat-sahabat Imam Malik tidak memulai ucapan tersebut tapi mereka
menjawabnya, tapi tidak mengapa memulainya [11]; menurut Ulama
Syafi’iyyah boleh mengucapkannya, dan sebagian menyatakan boleh
ditambahkan ucapan semisalnya, seperti AhyakumuLLAH atau Kulla ‘amin wa
antum bikhair  atau ‘A’adahuLLAH ‘alaykum Bikhair [12]; menurut ulama
Hanabilah mubah mengucapkannya, tidak sunnah juga tidak bid’ah, Imam
Ahmad berkata: Aku tidak pernah memulainya, namun bila ada orang yang
mendahuluiku mengucapkannya maka aku akan menjawabnya [13].

Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada Hari Raya yang
dilakukan orang-orang seperti ucapan ‘Ieduka Mubarak dan yang serupa
dengannya, apakah ada asalnya dalam syari’at atau tidak? Jika ada
asalnya maka apa yang diucapkan? Maka beliau menjawab [14] : “Ucapan
pada Hari Raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika
bertemu setelah shalat Id: Taqabbalallahu minnaa wa minkum (yang
artinya): Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian, Wa
ahaalallahu ‘alaika dan yang semisalnya, maka telah diriwayatkan dari
beberapa shahabat ra bahwa mereka melakukannya dan diberi rukhshah oleh
para Imam, maka barangsiapa yang melakukannya baginya ada contoh dan
barangsiapa yang tidak melakukannya baginya juga ada contoh.” WaLLAHu
a’lam.

Catatan Kaki:

[1] Tamamul Minah [I/354]

[2] Wushul Al Amani bi Ushul At Tahani” [hal-109] dalam juz-I dari kitab Al Haawi lil Fatawi

[3] Tuhfatu Iedul Fithr

[4]
Shalatul Iedain, [II/129/2] dengan sanad yang semua rijal-nya tsiqat
dan dengan sanad yang shahih, tetapi ada perbedaan Habib bin al-Walid
dalam sanad-nya sehingga tidak marfu’ sampai pada sahabat Nabi SAW

[5] At-Targhib wa Tarhib, [I/42-II/41]

[6] Jauharun Naqiy, [III/320]

[7] Imam Ahmad menyatakan : “Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)”

[8] Fathul Bari, [II/446]

[9] HR Thabrani dalam Syu’abul Iman, [VIII/234 no. 3565]

[10] Al-Bahrur Ra’iq Syarh Kanzud Daqa’iq, [V/206]

[11]
At-Taj wal Iklil Li Mukhtashar Khalil, [II/301]; juga Mawahib al-Jalil
fi Syarhi Mukhtashar Syaikh Khalil, [V/308]; juga Al-Fawakih ad-Diwani
‘ala Risalati Ibnu Abi Zaid Al-Qayruniy, [III/244]

[12] Hawasyi
Asy-Syarwaniy, [III/56]; juga dalam Asna Al-Mathalib, bab Faidah
At-Tahni’ah bil ‘Ied [IV/121]; Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj,
[X/203-204]; juga dalam Mughnil Muhtaj ila Ma’rifatil Alfazh, [IV/141];
juga Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, bab At-Tahni’ah bil ‘Ied,
[VII/410-411]; juga Hasyiyyah Al-Bujairamiy ‘alal Khathib, [V/426, 434]

[13]
Asy-Syarhul Kabir, [II/259]; Al-Iqna’ , [I/174]; Al-Furu’ Libni Muflih,
[III/137]; Al-Inshaf, [IV/153]; Syarhun Muntaha’ Al-Iradat, [II/329];
Kasyaful Qana’ An Matanul Iqna’, [IV/225]; Al-Mughni [IV/274]; Manarus
Sabil Syarhud Dalil, [I/104]

[14] Majmu’ Al-Fatawa, bab Mas’alah at-Tahni’ah fil Ied, [V/430]

coretan raya 2

October 21st, 2006 by jenanboyz

Hari itu-selepas seminggu beraya dikampung, saya pulang ke
K. Lumpur. Memikirkan highway PLUS sibuk, saya menyusuri laluan
lama. Pekan pertama yang saya lintas ialah Teluk Intan.

Terasa mengantuk, saya singgah sebentar disebuah restoran di pinggir
pekan itu. Sebaik memesan makanan, seorang kanak-kanak lelaki -
berusia lebih kurang 12 tahun muncul dihadapan.

‘Abg nak beli kuih?’ Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera
menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kuih jajaanya. "Tak
apalah di kl… abg dah pesan makanan," jawap saya ringkas.

Dia berlalu. Sebaik pesanan tiba, saya terus menikmatinya. Lebih
kurang 20 minit kemudian saya nampak kanak-kanak tadi menghampiri
pelanggan lain, sepasang suami isteri agaknya. Mereka juga menolak,
dia berlalu begitu saja.

"Abg dah makan, tak nak beli kuih saya?" katanya selamba semasa
menghampiri meja saya.
"Abg baru lepas makan dik, masih kenyang lagi
ni," kata saya sambil menepuk-nepuk perut.

Dia beredar, tapi cuma setakat dikaki lima. Sampai disitu, di
meletakkan bakulnya yang masih sarat Setiap yang lalu ditanya… "
Tak nak beli kuih saya bang.. Pak cik… kakak atau makcik." Molek
budi bahasanya!

Mamak restoran itu pun tidak menghalang dia keluar masuk ke
premisnya bertemu pelanggan. Sambil memerhati, terselit rasa kagum
dan kasihan dihati saya melihatkan betapa gigihnya dia berusaha.

Tidak nampak langsung tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun
orang yang ditemuinya enggan membeli kuihnya. Selepas membayar harga
makanan dan minuman, saya terus beredar ke kereta. Kanak-kanak itu
saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka
pintu , membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya
menghidupkan enjin, kanak-kanak tadi berdiri di tepi kereta. Dia
menghadiahkan sebuah
senyuman.

Saya turunkan cermin, membalas senyumanya. Saya lihat umurnya lebih
kurang
12 tahun. "Abg dah kenyang, tapi mungkin abg perlukan kuih saya
untuk adik-adik abang, ibu atau ayah abang. katanya petah sekali
sambil tersenyum. Sekali lagi dia mempamerkan kuih dalam bakul
dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tenung wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kesian
di hati. Lantas saya buka dompet, dan menghulurkan sekeping not
merah RM10. Saya hulurkan padanya.

" Ambil ni dik! Abang sedekah… tak payah abang beli kuih tu" saya
berkata ikhlas kerana perasaan kesian meningkat mendadak.

Kanak-kanak itu menerima wang tersebut, lantas mengucapkan terima
kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya
gembira dapat membantunya.

Setelah enjin kereta saya hidupkan, saya mengundur. Alangkah
terperanjatnya saya melihat kanak-kanak itu menghulurkan pula RM10
pemberian
saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua
matanya.

Saya terkejut, lantas memberhentikan semula kereta, memanggil kanak-
kanak itu. "Kenapa bang nak beli kuih ke?" tanyanya. "Kenapa adik
berikan duit abg tadi pada pengemis tu? Duit tu abg bagi adik!" kata
saya tanpa menjawap pertanyaannya.

"Bang, saya tak boleh ambil duit tu. Mak marah kalau dia dapat
tahu saya mengemis. Kata mak kita mesti bekerja mencari nafkah
kerana Allah berikan tulang empat kerat pada saya. "Kalau dia tahu
saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak,
mak pasti marah. Kata mak, mengemis kerja orang yang tak berupaya,
saya masih kuat bang!" katanya begitu lancar.

Saya sebak, sekali gus kagum dengan pegangan hidup kanak-kanak itu.
Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa semua harga kuih dalam
bakul itu.

"Abg nak beli semua ke?" dia betanya dan saya cuma ngangguk. Lidah
saya kelu nak berkata.
"RM25 saja bang…..! Selepas dia memasukkan
satu persatu kuihnya kedalam plastik, saya hulurkan RM25. Dia
mengucapkan terima kasih dan terus berlalu.

Saya perhatikan dia sehingga hilang daripada pandangan. Dalam
perjalanan ke K. Lumpur, baru saya terfikir untuk bertanya
statusnya. Anak yatim kah??

Siapakah wanita berhati mulia yang melahirknya? ? Terus terang saya
katakan, saya beli kuihnya bukan lagi atas dasar kesian, tetapi
kerana rasa kagum dengan sikapnya yang dapt menjadikan kerjayanya
satu penghormatan.

Sesungguhnya saya kagum dengan sikap kanak-kanak itu. Dia menyedarkn
saya, siapa kita sebenarnya!! ! —

Negara kita aman sentosa

Jangan dilupa orang terinyanya

Makan sudah baju bergaya

Orang fakir jangan dilupa

coretan raya 1

October 21st, 2006 by jenanboyz

tulisan ini dihantar oleh seorang
sahabat……..bagi mereka yang mempunyai ibu dan ayah, hargailah mereka…

renungilah luahan hati seorang anak yang ditinggalkan ibu

WARKAH BUAT IBU.………

Mak……..
Terlalu bosan rasanya duduk membilang hari.
Dah hampir sepuluh tahun mak pergi,
Rasanya baru semalam mak peluk kita kan
sejuk syahdu masih terasa lagi ini….

Mak tau tak…..
itu lah pertama kali mak peluk anak mak yang nakal ni sejak kita dewasa.…
dan itu juga terakhir kali nya.
Emmmm…rupanya mak dah tau mak nak pergi jauh….
nak tinggal kan anak2 mak…..
nak tinggal kan dunia fana ni…..
mak macam dan sedia…..
Seminggu sebelum tu…..mak dah menganyam tikar mengkuang 3 helai…..
Akak kata sampai ke pagi mak anyam tikar tuu…..
tanpa rasa mengantuk, tanpa rasa letih…..
kakak pun rasa hairan…..
mak tak pernah buat begitu…..
lepas itu mak pasang radio kecil di sebelah mak…..
tapi mak seolah-olah tak sedar bahawa rancangan radio tu siaran siam…..
kengkadang siaran indonesia…mak terus tekun menganyam…
Rupanya tikar yang telah mak siapkan tu di gunakan untuk mengiringi mak ke
kuburan..

lepas itu mak sapu sampah sekeliling rumah bersih2….
lepas itu mak jemur karpet-karpet…
lepas itu mak ubahkan sofa ke tempat lain..mak biarkan ruang tu kosong..
rupanya kat situ jenazah mak diletakkan..
paling menarik sekali mak bagitahu kat mana semua duit dan barang kemas mak..
ada kat dalam almari…..
ada kat dalam dalam beg…..
ada dalam ASB…..
ada kat dalam Tabung Haji..
mak cakap tak berapa cukup lagi….
ada kat dalam gulung tikar…..
masa tu mak perasan takk..??
kita gelak sakan bila mak bagitahu duit dalam gulung tikar…kita
kata mak ni memang pesenn lama laaa…
mak cuma gelak saja…
eeemmm..bahagiaa nya saat ituu..

Mak…..
Hari tu hari sabtu 18/08/1999 pukul 3 petang mak tiba2 sakit perut…..
bila malam tu kita sampai dari KL…..mak dah dalam kesakitan.
Akak dan abang kat kampong semua dah pujuk…..
mak tetap takmau pergi hospital…..
dan cuma tinggal giliran kita sahaja yang belum pujuk.
Mak kata mak takmau duduk dalam hospital…..
tapi kita berkeras juga pujukk..
nanti di hospital ada doktor…ada ubat untuk mak..
kat rumah kami hanya mampu sapu minyak dan urut saja..
Mak tetap tak bersetuju…..mak memang degil…
tak salah, anak mak yang ni pun mengikut perangai mak tu..
Tapi akhirnya bila melihat keadaan mak makin teruk….
mak sakit perut sampai nak sentuh perut mak pun sakit kami adik beradik
sepakat hantar juga mak ke hospital…..

Mak…..
amponkan kami semua…
kami nak mak sihat…
kami sayang mak…
kami tak mahu mak sakit…
kami terpaksa juga hantar mak ke hospital….
ampon kan kami ye mak….

Mak…..
Malam itu abang bawa mak ke hospital dan itu lah pertama dan terakhir kali
mak naik kereta kita…
Masih terbayang betapa ceria dan gembiranya mak, kita kata nak
beli kereta….
Mak asyik tanya saja..cukup ke duitt..
kita jawab pula…kalau tak cukup,
mak kan banyak duit…
mak gelak ajerr…..
Lepas tu bila kereta kita sampai…..mak buat kenduri kesyukuran…..
Dan kita masih ingat lagi…bila kita eksiden terlanggar kelinn naik motor…..

Punya lah kita takut…kita warning kakak kita jangan sesekali bagitahu kat
mak…..
Bila balik sahaja kampong….kita cepat-cepat simpan kereta dalam garaj…..
Tapi mak perasan juga bumper depan kemek…mak tanya Kenapa…?
Selamba saja kita jawab terlangar pokok bunga…..
Mak….tujuan kita menipu tu supaya mak tak risau…
Maafkan kita kerana sampai mak pergi mak tak tau hal sebenar…
mak, kita menipu mak kan…ampon kan kita….

Mak…..
Jam 4.30 pagi 19/08/1999
Bila tiba saja kat hospital….nurse tengah balut mak dengan kain putih…..
mak mesti nampak kita jatuh terduduk di lantai hospital…
Mesti mak nampak abang cium dahi mak…..
Mesti mak nampak akak baca doa untuk mak….
Mesti mak nampak adik terduduk kat kerusi kat sudut itu…
mesti mak nampak semua tu kann…kann..kannn
Mak tau tak….
Pagi tu balik dari hospital jam 5.20 pagi kita mamandu dalam keadaan
separuh sedar…
Adik kat sebelah diam melayan perasann…
Kenangan bersama mak berputar dalam kepala ini…
jalan di depan terasa makin kelam…..
airmata dah tak mampu di tahan….
Masa tu seandainya apa-apa terjadi di jalan itu kita rela…
Namun alhamdulillah akhirnya kita sampai juga. di sebab kan pagi masih awal,
jadi jalan tu lenggang..kosong….sekosong hati ini…..
Sepanjang apa! rjalanan terasa kedinginan subuh itu lain benar suasananya…..
terasa syahdu dan sayu begitu…dinginnnn….

Mak…..
kita masih ingat lagi…
kita baca AlQuran kat tepi mak temankan mak…
Jam 11.00 pagi mak di mandi kan….
Anak2 mak yang pangku masa mak mandi….
Mak mesti rasa betapa lembut nya kami mengosok seluruh tubuh mak…..
kita gosok kaki mak perlahan lahan…..
Mak perasan tak…?
Makcik yang mandikan mak tu pujuk kita…..
Dia kata…" dikk…jangan nangis…kalau sayang mak jangan buat
begitu…jangan
nangis ya.."
Bila makcik tu kata begitu…
lagi laaaa laju airmata ni..tapi kita kawal supaya tak menitik atas mak….

Mak…..
Sampai takat ini surat ni kita tulis…..
kita nangis ni…..
Ni kat dalam bilik…baru pukul 4.00 pagi….
tak ada orang yang bangun lagi…..
kita dengar nasyid tajuk "anak soleh"
kita sedih…kita rindu kat mak..!
Takpa lah…..nanti bila kita selesai sembanyang subuh, kita baca yassin untuk
mak…
mak tunggu ya…!

Mak..
Sebelum muka mak di tutup buat selamanya…
Semua anak2 mak mengelilingi mak…menatap wajah mak buat kali terakhir….
Semua orang kata mak seolah-olah senyum saja…
Mak rasa tak….masa tu kita sentuh dahi mak…
kita rasa sejukkkk sangat dahi makk…..
kita tak mampu nak cium mak…kita tak daya….
kita tuliskan kalimah tauhid kat dahi mak dengan air mawar…
Airmata kita tak boleh tahan….
Mak mesti ingat kan yang anak mak ni jadi imam solat jenazah untuk mak…
tapi kita suruh tok imam bacakan doa sebab kita sebak….

Jam 12 tengahari mak diusung keluar dari rumah….
Akak pula dah terkulai dalam pelukan makcik..
badan akak terasa panas…
makk…anak mak yang seorang tu demam….
Mak tauu…cuma akak seorang saja anak mak yang tak mengiringi mak ke tanah
perkuburan…

Mak…..
Hari2 ku lalui tanpa kewujudan mak lagi…
Begitu terasa kehilangan mak…boleh kata setiap malam selepas maghrib anak mak

ini berendam airmata…

Dan sampai satu tahap….masa tu malam jumaat selepas maghrib…
Selepas kita baca yassin dengan kawan-kawan.
entah Kenapa bila kat bilik kita keluarkan gambar2 mak lepas itu apa lagi…
semakin kita tenung terasa semakin sayu…tangisan tak dapat dibendung…
Mak tauu…kita cuba bertahan…
memujuk diri sendiri tapi tak juga reda…
kita rasa nak telefon mak…
nak cakap dengan mak….
anak mak yang ni dah tak betul kan..????
Dan akhirnya dalam sedu sedan itu kita telefon kampong…
kita cakap dengan kakak..kita nangis lagi.
Puas lah kakak memujuk kita…
Akak kata…" tak baik laa nangis aje..doa lah untuk mak..nanti kalau gini

saja mak yang susah kat sana.."
Dan akhirnya akak juga nangis…..
Agaknya mak nampak adegan tu…
sebab malam jumaat kata orang roh balik rumahh…
mengharap sedekah dari anak2 nya…

Mak tau tak…di saat itu kerinduan terasa menusuk sehingga ke hulu hati…
rasa nyilu sangat….
menusuk-nusuk sehingga terasa begitu sakit dalam dada ni….
Sampai sekarang bila kerinduan itu menjelma…hanya sedekah al-fatihah
kita berikan…..

Mak….
cukup lah sampai sini dulu….
kawan kita dah ketuk pintu bilik tu….
kejap lagi kami nak pergi solat subuh kat masjid…
selalunya, kita yang bawak mak naik motor kan…
kali ni kita jalan kaki dengan kawan pulak…
esok kita ingat nak tulis surat kat ayah pula….
Mula2 kita tak tau nak hantar mana surat ini…
lepas itu kawan kita bagitahu…simpan saja buat kenangan..

kita cuma tau alamat ni aje…
tak mengapa ye mak…kita kasi orang lain baca…
kita stop dulu…sebab kawan kita dah lama tunggu tu.
akhir kata untuk mak, I LOVE YOU SO MUCH dan jutaan terima kasih kerana
membesarkan kita…
memberi seluruh kasih sayang dari kecil sampai masuk sekolah..
sampai masuk unibesiti..
sampai kita boleh rasa naik kapal terbang…
boleh rasa duduk kat negara orang…
Sampai akhir hayat ini jasa mak tak akan mampu kita balas..

Sekian terimakasih.

Yang Benar
~Anak mak yang dah tak degil

Pesanan:

· Hargailah kewujudan mak kita

· Hargailah segala pengorbananan mak

· Berbaktilah selagi mereka masih hidup dan jangan sesekali membantah segala
suruhannya yang baik

· Merendahkan suara ketika berbicara

· Ingatlah kita hanya ada satu ibu dan satu bapa saja dalam dunia ini..dan
sekiranya Allah menjemput salah seorang atau kedua-duanya, kita tidak akan
bertemu lagi dengan mereka sehinggalah hari kebangkitan nanti.

· Doa anak yang soleh sahaja yang dapat meringankan beban seksa ibu dan bapa
kita.

SELAMAT MENYAMBUT HARI LEMBARAN YG MULIA..MOGA KEHADIRANNYA KALI INI TIDAK DISIA-SIAKAN..KEPADA YG BERKESEMPATAN, CIUMLAH TANGAN BONDA YG TERCINTA..MOHONLAH AMPUN  BUAT DIRI YG SENTIASA  MENAGIH PENGORBANANNYA..KEPADA YG TIDAK BERPELUANG, SAMPAIKAN DOA BUAT  BONDA , MOGA2 SENTIASA  DI DALAM  RAHMAT DAN KEREDHAAN YANG MAHA BERKUASA..

Perkara yg akan membuatkan kita susah

October 21st, 2006 by jenanboyz

Terdapat beberapa perkara yang
mempunyai kaitan dengan kesusahan atau secara lebih khusus sebagai penyebab
ditimpa kesusahan dan penderitaan yang mana pada kebiasaannya kita mengambil
ringan tentang perkara tersebut.

Dalam kitab Al-Barakah fi Fadhl lis Sa’yi Wal Harakah yang disusun oleh Abi
Abdillah Muhammad bin Abdul Rahman Al-Habsyi telah diterangkan perkara yang
mempunyai hubung kait dengan kesusahan seseorang.

1. tidak sembahyang atau solat.
2. tidak membaca Bismillah ketika hendak makan.
3. makan atas pinggan yang terbalik.
4. memakai kasut atau sandal memulakan sebelah kiri.
5. menganggap ringan apa-apa yang terjatuh dalam hidangan makanan.
6. berwuduk’ di tempat buang air besar atau air kecil.
7. suka bersandar pada pintu rumah.
8. suka duduk di atas tangga.
9. membiasakan diri mencuci tangan di dalam pinggan selepas makan.
10. membasuh tangan dengan tanah atau bekas tepung.
11. tidak membersihkan rumah.
12. membuang sampah atau menyapu dengan kain.
13. suka membersihkan rumah pada waktu malam.
14. suka tidur di atas muka.
15. membakar kulit bawang.
16. menjahit baju yang sedang dipakai.
17. mengelap muka dengan baju.
18. berdiri sambil bercekak pinggang.
19. tidur tidak memakai baju.
20. makan sebelum mandi hadas.
21. tergesa-gesa keluar dari masjid selepas menunaikan solat subuh
22. pergi ke pasar sebelum matahari terbit.
23. lambat pulang dari masjid.
24. doakan perkara yang tidak baik terhadap ibubapa dan anak-anak.
25. kebiasaan tidak menutup makanan yang dihidangkan.
26. suka memadam pelita dengan nafas.
27. membuang kutu kepala dalam keadaan hidup.
28. membasuh kaki dengan tangan kanan.
29. membuang air kecil pada air yang mengalir.
30. memakai seluar sambil berdiri.
31. memakai serban sambil duduk.
32. mandi junub di tempat buang air atau tempat najis.
33. makan dengan menggunakan dua jari.
34. berjalan di antara kambing.
35. berjalan di antara dua perempuan.
36. suka mempermainkan janggut.
37. suka meletakkan jari jemari tangan pada bahagian lutut.
38. meletakkan tapak tangan pada hidung.
39. suka menggigit kuku dengan mulut.
40. mendedahkan aurat di bawah sinaran matahari dan bulan.
41. mengadap kiblat ketika membuang air besar atau air kecil.
42. menguap ketika solat.
43. meludah di tempat buang air besar atau air kecil.

LIMA

PERKARA YANG MESTI
DISEGERAKAN

Dari Hatim Al-Asom :
"Terburu-buru itu termasuk sifat syaitan, kecuali pada

lima

tempat" , maka ia termasuk sunnah Rasulullah SAW
1. Memberi makan tetamu, bila ia datang berkunjung.
2. Menyiapkan perkuburan mayat bila telah mati.
3. Mengahwinkan anak perempuan, bila cukup umur.
4. Membayar hutang, bila telah sampai masanya.
5. Bertaubat dari dosa! , bila ia telah melakukannya.

LIMA

PESANAN DARI SYAIKH
AL-BALKHI

"Ambil olehmu

lima

perkara
kemudian amalkan :
1. Sembahlah Allah sebanyak keperluanmu kepadaNya.
2. Ambillah apa-apa dari dunia menurut keperluan selama umurmu didalamnya.
3. Lakukanlah maksiat kepada Allah, menurut kemampuanmu memikul azabNya.
4. Persiapkanlah bekal didunia untuk selama kamu tinggal didalam kubur.
5. Beramallah untuk syurga, menurut lamanya masa yang kamu inginkan untuk
tinggal didalamnya." HARTA BERTIMBUN BOLEH
MENYEBABKAN

LIMA


PERKARA

Dari Sufyan Sauri : "Tiada berkumpul harta disisi seseorang pada zaman
ini, melainkan timbul didalam dirinya

lima

perkara :
1. Panjang angan-angan.
2. Sentiasa tamak.
3. Sangat kedekut.
4. Berkurang waraknya.
5. Lupa kepada akhirat.

7 JENIS WAJAH MAYAT DI DALAM KUBUR
1. Mayat yang mukanya berpaling dari arah kiblat.
- Itulah petanda bahawa semasa! hidupnya telah melakukan perkara syirik kepada
Allah.
2. Mayat yang mukanya berbentuk bab*.
- Itulah petanda semasa hidupnya tidak melakukan solat

lima

waktu, tidak menjaga solat

lima

waktu. Lalai dalam solatnya. Sesungguhnya solat dapat mencegah diri dari
melakukan perbuatan keji dan mungkar.
3. Mayat yang kepala menjadi batu! yang hitam legam.
- Itulah mayat yang semasa hidupnya derhaka kepada kedua ibu-bapa.
4. Mayat yang perutnya buncit dan meletup.
- Itulah mayat yang semasa hidupnya suka makan harta yang haram.
5. Mayat yang kukunya mencengkam dan meliliti seluruh tubuhnya.
- Itulah mayat yang semasa hidupnya suka berkelahi, mengata, menghina,
mengkritik dan mengumpat orang.
6. Mayat yang keluar mata air dari kuburnya dan air itu baunya lebih busuk dari
bangkai.
-Itulah mayat orang yang suka makan riba’.
7. Mayat yang wajahnya tersenyum
- Itulah mayat yang semasa hidupnya berilmu dan beramal soleh.

Wallahua’lam

 


 

Artikel ini datangnya dari: Portal Ukhwah
http://www.ukhwah.com/

URL untuk Artikel ini:
http://www.ukhwah.com/article.php?sid=2132

Calon….

October 21st, 2006 by jenanboyz

 

Usai berdoa seperti kelaziman,
dia meraup wajahnya. Sunat selepas maghrib menjadi penutup ibadah senjanya
lewat petang itu. Hajat memang ada untuk sama-sama meraih pahala berganda di
masjid, namun keletihan diri terlebih dahulu merantai keinginan mulia itu.
Serik rasanya beradu kekuatan di padang bola bersama dengan orang Arab. Ganas, agresif dan kasar. Semuanya bersatu dan
berpadu dan membuahkan natijah yang kurang menyenangkannya. Tersungkur jugak
dia dibentes lawan. Tangannya mencapai minyak habbatussauda’ untuk disapukan
pada bahagian yang sudah nampak lebam biru kehitaman. Kakinya hampir saja
kejang.

Aduh! Dia mengeluh. Matanya terpaku pada penanda buku unik yang terselit malu
pada Tafsir Quran. Jamahan matanya menyatakan dalam kiasan nurani penanda buku
itu unik rekaannya. Seunik bicara dan hujah pemberi “book mark” itu. Kemas
dengan kesan “liminate”, berukuran comel 30cm panjang kali 5cm lebar. Kalimah
bertinta ungu itu menarik perhatiannya malah tersemat utuh di hatinya. Terkesan
siapa yang membaca hikmah puitis itu.


“Layakkah kita untuk mengasihi manusia sekiranya kasih dan cinta kita pada
Pencipta manusia itu masih belum mantap. Tepuklah dada tanyalah iman.”

Semusim percutianku sebelum melanjutkan pengajian di Universiti Yarmouk ini,
sememangnya meninggalkan kesan yang mendalam pada hatiku. Alasan yang aku
kemukakan semata-mata untuk mengelak apabila Tok Ayah persoalkan tentang jodoh
ternyata membuahkan satu mutiara kenangan. Kenangan yang menautkan dua hati
melalui penyatuan idea mengenai CALON SOLEHAH.

“Mencari seorang calon isteri yang solehah bolehlah kita umpamakan sebagai
mencari gagak putih. Semakin ia bernilai maka lazimnya semakin susah untuk kita
dapatkan. Agaknya inilah penyebab ramainya anak muda yang masih mencari-cari
jodoh sedangkan umur semakin meningkat…lewat menunaikan seru,”

“ Hafiz, kamu tidak mahu berkahwin ke?” eh, tiba-tiba pula Tok Ayah mengutarakan
soalan cepu mas ini. Pengajian memang sudah tamat namun hajat di hati ingin
menyambung ke peringkat sarjana masih segar.

“Bukan tak berkeinginan Tok Ayah tapi..hajat nak mencari yang solehah. Biar
dunia tidak berat sebelah,” harap-harap inilah alasan yang agak kukuh. “Nak
cari yang benar-benar solehah, bukanlah satu usaha yang mudah. Nak yang solat
di awal waktu, hormati ibu dan ayah, pandai mengaji Quran, menutup aurat..ish,
banyak sungguh ciri-ciri kamu Hafiz..alamat, sampai Tok Ayah berumah kat batu dua
lah baru sampai hajat..”

“ Susahlah Tok Ayah…yang sipi-sipi ada lah jugak jumpa…”sempat juga aku
melontarkan idea spontan aku. Tok Ayah hanya menggeleng.

Pertemuan dengan Raihanah berlaku secara tidak sengaja, ketika bersama-sama Tok
Ayah singgah ke warung pagi itu. Suka benar Tok Ayah dengan nasi lemak air
tangan ibu saudara Raihanah. Dia kurang mengenali siapa Raihanah. Malah
daripada cerita ibu saudaranya itu Raihanah adalah anak abangnya yang tinggal
di Kedah. Tamat pengajian gadis itu bermastautin sementara di kampungnya. manis
tapi jarang tersenyum. Kulit asianya terlindung di sebalik baju t-shirt labuh
paras lutut dan bertangan panjang itu, dengan tudung turki bercorak flora.
Tiada yang istimewa sangat! Namun peristiwa malam itu di surau ternyata
membuktikan bahawa gadis itu bukanlah sebarangan gadis. Mempunyai daya tarikan
pada yang tahu menilai mutiara wangian syurga ini.

“calon isteri yang solehah…orang lelaki nak yang solehah sahaja, tapi
kadangkala diri sendiri dia tak check betul-betul,” ngomel seorang gadis ketika
perbincangan ilmiah pada malam itu apabila Tok Ayah menyatakan mengenai topic
tersebut. Aku sekadar tersenyum. Kelaziman kuliah maghrib lebih berbentuk
ilmiah untuk menarik golongan muda bersama-sama meluahkan pendapat. Mendengar
kata-kata gadis itu aku tersenyum sendirian.
“Raihanah ada sebarang pendapat?” soal tok ayah apabila gadis bertelekung putih
itu hanya sekadar menjadi pemerhati debat tidak formal itu.
“sekadar pendapat tok ayah…jika kita nak bakal zaujah kita seorang yang
solehah, yang bertaqwa saya ada satu tips,”riuh seketika.
“sebelum kita kaji dan telek bakal isteri kita paling afdal kita telek diri
kita dulu. Teropong dulu takat mana iman dan taqwa kita,” aku sedikit terkelu.
Macamana agaknya? Namun persoalan itu hanya berlegar-legar di fikiran kosong
aku, tidak terluah.
“nak dapat bakal isteri yang solehah, paling penting syarat utamanya solehkan
dulu diri anda. Di sinilah dapat kita kaitkan konsep bakal isteri yang solehah
untuk bakal suami yang soleh. tabur ciri-ciri suami soleh dalam diri. Siramkan
sahsiah mulia dengan sifat mahmudah lelaki soleh. Aku mengangguk tanda setuju
dengan pendapat bernas itu.
“tapi, ada jaminan ke kita akan mendapat bakal isteri yang solehah?” ada qariah
muda berani untuk mengutarakan soalan.
“Bergantung pada diri kita sebenarnya. Suburnya ciri-ciri lelaki soleh pada
diri kita insyaAllah akan meningkatkan iman dan taqwa kita. Semakin cerahlah
peluang untuk kita mendapat calon yang solehah. Jodoh adalah kerja Allah.
Ingatlah jaminan Allah dalam surah Nisa’ bahawa lelaki yang soleh telah
ditetapkan akan dipertemukan dengan perempuan yang solehah. Lelaki yang mukmin
untuk perempuan yang mukminat.”
Raihanah melepas lelah barangkali. Lalu dia tersenyum. “ teruskan usaha mencari
calon yang solehah. Tapi, dalam masa yang sama tingkatkan nilai kesolehan anda.
Inilah strategi serampang dua mata, macam DEB. Cuma satu nasihat saya, jangan
letakkan syarat bakal zaujah itu terlalu tinggi,”
“Kenapa pulak?” Tanya Tok Ayah. Eh, Tok ayah pun mengambil bahagian juga?
“bukankah hakikat sebuah perkahwinan adalah saling melengkapi. insyaAllah jika
ada yang kurang pada bakal zaujah, tampunglah selepas perkahwinan tersebut. Hal
iman dan taqwa janganlah diambil remah. Jangan nak berlebih dan berkurang dalam
hal mencari pasangan kita. Mengambil kata-kata daripada laman Kemudi hati dalam
Anis, kebanyakan lelaki menilai dan meletakkan piawaian yang tinggi untuk bakal
zaujahnya tetapi merendahkan piawaian itu untuk dirinya…itu adalah silap
tafsir.”
Alhamdulillah, sekarang terbuka sudah pemikiran ruang lingkup. Aku tersenyum.
Terima kasih Raihanah. Tok Ayah juga tersenyum. Ada hikmah di sebalik semua ini.

“hafiz, ada surat untuk anta
daripada Malaysia…”kenyitan
mata Syahid sewaktu menyerahkan surat
bersampul ungu itu diikuti dengan gelak tawa rafiknya yang lain mematikan
lamunannya.

Senyuman yang berbunga di bibir Syahid seolah-olah memberitahunya bahawa warkah
itu sudah pastinya daripada tunangannya, Raihanah.. calon pilihan Tok Ayah, dan
juga hatinya yang kini sedang meneruskan pengajian peringkat sarjana
Undang-undang di Universiti Islam Antarabangsa. Alhamdulillah, gadis inilah
yang telah menemukannya titik noktah pencarian calon solehah.

Syukur Ya Allah.

 


 

Artikel ini datangnya dari: Portal Ukhwah
http://www.ukhwah.com/

URL untuk Artikel ini:
http://www.ukhwah.com/article.php?sid=2108

 

TENTANG CINTA..BETUL KE??

October 21st, 2006 by jenanboyz

"Cinta..datangnya dari mata..kemudian
turun ke hati"

"Rasa cinta..Adalah satu anugerah
tuhan pada hambaNya..Dan kerananya manusia sanggup melakukan apa saja..Asalkan
dia memiliki apa yang dicita..Kerna cinta..Sanggup berkorban apa saja, harta
dan nyawa..Setiap detik hanya memikirkan tentang si dia yang tercinta..Ingin
bersama sepanjang masa..Tetapi pastikah cintamu dihargai..Mungkinkah si dia
akan tetap setia..Setelah kau serah jiwa.. dan ragamu..Mungkinkah kau pastikan
tidak akan dihancurkan..Jika kau mencintai bunga..Sedarlah engkau bunga itu
akan layu..Jika kau cintakan manusia..Sedarlah suatu hari dia..akan pergi..Jika
kau mencintai harta..Harta itu nanti kau akan tinggalkan..Jika kau mencintai
Ilahi..Hanya Dia yang akan kekal abadi..Justeru..Cintailah Ilahi"

"Cinta bukan mengajar kita lemah,
tetapi membangkitkan kekuatan.
Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan.
Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat…"

"Konsep sayang yang perlu difahami
maksudnya …kadang kala kita simpan apa yg kita sayang dan kadangkala kita
lepaskan apa yg kita sayang …yg penting semuanya mesti kerana Allah."

"kalau kita syg someone..kita akan
berikan yg terbaik utk dier..kalo ade kekurangan dlm diri kiter..kiter cube
ubah so that he/she will be happier with us..not being perfect..but d best at
least for him/her and for our own good..xkire pon sape org
tu..kekasih..kawan..keluarga"

"kalau KITA syg sgt kat seseorang,KITA
akan sanggup berkorban smpi ke tahap melepaskan dia.sebab KITA rase ada org
yang jauh lagi baik yang mampu membuatkan hidup org yg KITA syg tu lg bahagia
dan gembira..KITA takkan menjadi seorang yg pentingkan diri sendiri yg hanya
ingin hidup KITA bahagia, tapi pada masa yg sama, org yg KITA syg tu mungkin
tak segembira KITA..jadi pd pendapat saye yg cetek pengalaman ini, saye rase
klu KITA betul2 syg kt org tu, KITA hanya ingin mengharapkan yg terbaik buat
dirinya walaupun KITA terpaksa berkorban dan mungkin akan mengambil masa yg
lama untuk bangun dari kekecewaan. Tapi andai kata masing2 dah syg sama
syg….jgn melarikan diri dari masalah, sebaliknya
cuba memperbaiki diri dan memberi yang terbaik..walau
apepon, tiada manusia yang sempurna dan jodoh pertemuan itu hanya Allah yang
tentukan. Wallahu’alam."


Petikan2 ini diambil dari sahabat2 penulis
yg sememangnyer berpengalaman luas dalam "ERTI CINTA"

Dalam konteks cinta, sememangnya telah
banyak pengertian2 yg diberi utk cinta dan kasih..

Jika ditanya;

" Kalau kita sayangkan
seseorang..Kadang-kadang kita kena lepaskannya..Betulkah?
"

(note: soalan ini melibatkan hubungan
antara seorang lelaki dan seorang wanita..)

Lantas, apakah jawapan yg terbaik utk
diberi dan dikongsi?

Bagi penulis, hanya orang yg bertanya
sahaja yg mampu menilai apa yg terbaik utk dirinya dan yg disayangi kerana dia
lebih memahami apa yg berlaku..namun, perlu diingatkan bahawa cinta boleh membawa sengsara namun boleh juga membawa
bahagia. Ianya bergantung kepada bagaimana kita mengurus cinta. Bagi penulis,
boleh dikatakan yang Islam memandang cinta terhadap berlainan jenis dalam 3
perspektif:

1. Mencintainya kerana Allah
(mendekatkan diri pada Allah dan mentaatiNya).
Ini termasuk cinta yang bermanfaat. Contohnya: Cinta suami isteri yang bernikah
untuk menjaga dirinya dari perkara maksiat dan juga bernikah kerana mengikuti
sunnah Rasulullah menyambung generasi pejuang.

2. Cinta yang mendatangkan murka Allah. Lebih kita kenali sebagai cinta kerana
nafsu berahi. Cinta inilah yang memalingkan diri kita dari Allah, membuat kita
lupa akanNya dan mendorong untuk melanggar syariatNya. Firman Allah: "Dan
diantara manusia dan orang yang mengangkat sembahan selain Allah, mereka
mencintai sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman sangat
cintanya pada Allah. Dan Allah tidak akan menunjuki orang - orang fasik."
(Al Baqarah: Ayat 165)

3. Cinta yang mubah (harus), adalah cinta yang tidak ada unsur kesengajaan.
Misalnya tanpa sengaja kita (lelaki) melihat wanita atau kita (wanita) melihat
lelaki kemudian jatuh cinta dan perkara ini tidak sampai kita membuat maksiat
pada Allah. Kita merahsiakannya dan menahan diri kita untuk tidak melakukan
perkara-perkara yang dilarang.

Oleh itu, tepuk dada tanyalah iman..:) kerana disitu terletaknya sumber
jawapan yg mampu memberikan ketenangan dan kepastian..tapi ..BAGAIMANA?BETUL
KE?

BETUL kerana;

“…boleh jadi kamu membenci
sesuatu,padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai
sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui.” [2:216]

"Mintalah
pertolongan (kepada Allah) dengan sabar…”. [2 : 153]

".. maka bertawakkallah
kepada Allah, sesungguhnya Allah mengasihi orang yang bertawakal kepadaNya.
Jika Allah menolong kamu maka, tiada seseorangpun yang boleh menghalang kamu,
dan jika ia mengecewakan kamu, maka siapakah yang dapat menolong kamu sesudah
Allah (menetapkan demikian) ? dan ingatlah kepada Allah jualah hendaknya orang
yang beriman itu berserah diri…” [3 : 159-160]

"…Di dalam hati
manusia ada kekusutan dan tidak akan terurai kecuali menerima kehendak Allah
swt…" [
Ibnu-Qayyum ]

"Apabila nafsu
berkuasa,gelaplah hati, Apabila hati gelita,sempitlah dada,Apabila dada
sempit,buruklah lakunya,Apabila buruk laku,ia dibenci semua makhluk" [Abu
Bakar Warraq]

Kesimpulannya, renung kembali erti cinta dan sayang kita itu dan tanyalah diri
sendiri soalan-soalan berikut;
1. Adakah cinta dan sayang kita ini jenis 1, 2 atau 3?Kalau
2..hrmm..fikirkanlah…
2. Mampukah kita menjaga
batas-batas pergaulan dan memelihara kehormatan diri? Jangan biarkan cinta yang
mubah ini menjadi cinta yang salah.
3. Last question tp sebenarnya yg paling penting..adakah hubungan yg terjalin
itu menjejaskan tanggungjawab kita sebagai hamba-Nya..

Pesanan akhir dari penulis;

Ingatlah firman Allah,
"Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran tuhanNYA dan menahan diri
dari keinginan nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempatnya." [Surah An
Naziat :Ayat 40-41]

Penulis sekadar ingin berkongsi pandangan sendiri yg pastinya terdapat
banyak kelemahan..jika ada tersalah dan silap, atau jika ada yg kurang bersetuju, penulis sememangnya bukan manusia yg sempurna..terima kasih kerana sudi meluangkan masa utk membaca coretan kali
ini..moga2 bermanfat utk kita semua..wassalam

 

Dan Demi Waktu..

September 22nd, 2006 by jenanboyz

Sesungguhnya saat-saat pertemuan kita semakin hampir…terasa hati ini bagai dihujani dengan kerinduan yg teramat dalam…Namun,  jauh di lubuk hati, timbul tanda tanya..apakah diri ini mampu menyempurnakan segala impian yg sentiasa menemani sang hati yang kerinduan..Cukupkah dengan hanya bijak menyusun janji-janji manis.. Buat penghibur hati yng sentiasa berduka lara..dek dosa-dosa silam yang masih lagi menghantui sang hati..Jawapannya masih lagi belum ku ketahui…yang pasti ku mengharapkan Ramadan kali ini penuh makna..Moga pertemuan kita kali ini mampu menghiburkan hati ini…

Air mata cinta

September 8th, 2006 by jenanboyz

 


Leaf3

Semenjak aku bekerja sebagai guru ni. Aku cukup risau mendengar khabar
angin yang bertiup sepoi-sepoi bahasa tu. Jawatan ni pun hanya sebagai
guru sandaran sahaja setelah aku beberapa bulan menjadi penganggur
terhormat dengan memegang ijazah dari UPM. Itu pun setelah aku dah mula
jenuh mendengar leteran abah dan rungut ibu kerana mereka kata aku ni
memilih kerja sangat.

Dah tak tahan rasanya, nasib baiklah aku ada kawan lama yang bekerja di
Pejabat Pendidikan Daerah yang membuka tawaran pengambilan guru
sandaran. Jadi, peluang untuk mengelakkan diri dari terus menjadi bahan
rungutan ini tidak kulepaskan begitu sahaja.
Sememangnya aku tahu bahawa diri aku ni tidak layak untuk menjadi pendidik, tapi apa boleh buat.

Sudah
keadaan yang memaksa aku untuk melupakan ketidakbolehanku itu. Borang
permohonan aku isi ala kadar aje, tidak mengharapkan sangat. Tapi bila
dah rezeki itu telah ditentukan milik kita, dan ia memang benar akan
menjadi milik kita tanpa kita sangka sekalipun. Aku menerima surat
jawapan dengan perasaan berbelah bagi juga sebab aku takut nanti aku
tak mampu untuk menunaikan tanggungjawab yang telah diamanahkan atas
bahuku ini. Namun, abah dan ibu mula tersenyum mendapat berita itu
kerana mereka tahu anak gadis mereka ini memang boleh memikul amanah
itu.

“Ah, mereka tidak tahu keadaan aku sebenarnya!” Bisik hati
kecilku. Walau bagaimanapun, sekurang-kurangnya surat jawapan itu akan
menyelamatkan aku untuk seketika. Namun aku sendiri pun tidak tahu
setakat mana ia mampu menyelamatkan aku. Aku ada mendengar desas–desus
dari adik-adik yang mengatakan bahawa ada orang telah datang merisik
aku. Terkejut gila aku dibuatnya. Aku masih belum memikirkan lagi untuk
menjadi isteri, suri rumah tangga apatah lagi ibu. Lagipun aku masih
belum bersedia untuk memasuki alam rumah tangga. Harap-harap, tawaran
guru ini akan membantu menyelamatkan aku yang dalam keadaan genting dan
kritikal ini.

Sekurang-kurangnya aku ada alasan untuk menolak
pinangan sesiapa sahaja dengan mengatakan bahawa aku ingin menumpukan
perhatian pada kerjaku terlebih dahulu untuk mencari pengalaman.
Lagipun aku tahu perangai abah dan ibu yang tidak pernah memaksa aku
untuk memenuhi kehendak mereka. Cuma harapan mereka itu yang akan
membuatkan aku jadi serba salah untuk tidak memenuhinya.

“Bila
angah nak lapor diri?” Tanya abah sewaktu kami sedang makan malam.
Makan malam bersama-sama merupakan perkara penting dalam keluargaku.
Sebab itulah hubungan kami bertambah mesra.
“Minggu depan bah.”. aku
telah diarahkan untuk melaporkan diri di Sekolah Menengah Agama
Falahiah di Pasir Pekan, Kelantan. Itulah sebuah negeri yang tidak
pernah kujejaki sepanjang hidupku hingga kini. Namun aku akan
memecahkan rekod itu minggu depan.

“Angah nak abah hantarkan
ke?” Memang aku dah jangka abah akan menawarkan pertolongannya itu.
Abah tidak pernah membiarkan aku kesusahan keseorangan tanpa bantuannya
sampailah aku dah besar panjang dan keluar universiti begini. Abah
seorang yang cukup penyayang pada kami anak-anaknya. Dia selalu
memanjakan kami dalam lingkungan batas-batas tertentu.

“Tak
payahlah bah. Angah pergi naik bas saja dengan kawan. Kawan angah pun
kena mengajar kat situ juga.” Jelas ku. Aku tak nak menyusahkan abah.
Jauh juga perjalanan dari Selayang ni ke sana. Kata orang, dalam tujuh
atau lapan jam juga. Aku dah banyak menyusahkan abah. Sekarang aku mahu
berdikari sendiri dan aku mahu tunjuk dan buktikan pada abah yang anak
gadisnya ini mampu untuk melakukan sesuatu dengan usaha sendiri.

Banyak
perkara yang terpaksa aku fikirkan. Terutamanya tentang keadaan tempat
mengajarku nanti. Negeri yang tidak pernah kujejaki bakal menyambut
kedatanganku sebagai musafir yang tidak tahu bila akan kembali ke
tempat asalnya. Namun kupercaya bahawa ia pasti bangga menyambutku
sebagai tetamunya.

“Jaga diri elok-elok kat tempat orang tu.
Nanti jangan lupa selalu hubungi ibu dan abah kat sini.” Pesan ibu
sewaktu aku nak bertolak ke Kelantan. Keluarga menghantar aku ke
Hentian Putra. “Jangan lupa bawa balik ‘awe’ Kelantan tau!” Usik adik
lelakiku. Adik aku seorang ni suka sangat menyakat aku. Kalau cakap
dengannya, ada saja hal-hal yang membuatkan kami tidak bersependapat.
Namun aku tahu, sejauh mana kasih sayang adikku itu terhadap aku.

“Jaga
perangai elok-elok. Tunjukkan budi pekerti yang mulia, barulah semua
orang sayang pada kita walau di mana sahaja kita berada.” Itu pesan
terakhir abah sebelum aku melangkah menaiki bas. Aku cium tangan abah
dan kupeluk ibu. Semoga berkat doa restu mereka. Aku bisa menghadapi
dan mendepangi arus kehidupan ini. Kasih dan sayang mu abah dan ibu
akan kubawa ke mana-mana sahaja selama mana kaki ini terus melangkah.

“Aah.”.
aku menyeka air mata sewaktu melihat lambaian abah, ibu dan adik-adik
tatkala bas yang kunaiki mula meninggalkan Perhentian Putra itu. Sedih
juga aku untuk berpisah dengan mereka. Keluarga yang aku cukup bahagia
dengan kasih sayang yang tercurah.

“Kita nak tinggal kat mana
nanti?” Tanyaku pada Nadia, kawan yang senasib denganku. “Tak payah
risau. Pak long aku dah janji nak uruskannya untuk kita.” Nasib baik
juga si Nadia tu ada bapa saudara kat sana. Kalau tak, macam manalah
nasib kami nanti.

“Pagi nanti, dia yang akan datang jemput kita
kat stesyen bas.” Sambung Nadia lagi. Lega hatiku bila mendengarnya.
Risau juga aku kalau tak ada orang yang ambil nanti sebab kami akan
sampai di Kota Bharu sebelum subuh. Pagi-pagi begitu kat manalah kami
nak gagau. Aku pun tak terfikir akan dihantar mengajar di Kelantan tu.

Bas
yang kami naiki tiba di stesyen bas Kota Bharu sewaktu azan subuh
berkumandang dari menara Masjid Muhammadi, sebuah masjid yang tertua di
negeri itu. Kedatangan ku ini disambut dengan laungan kalimah suci
membesarkan Tuhan. “Semoga ia menjadi suatu petanda yang baik buat ku.”
Bisik hati kecilku. Bandar ini sudah mula bangkit dari lena manusia.
Orang ramai yang baru tiba, berduyun-duyun menuju ke masjid yang
berdekatan.

“Jom, pak long aku dah tunggu tu!” Ajakan Nadia itu
membuatkan bicara hatiku terputus di tengah jalan. Aku membuntuti
langkahnya yang agak kalut sambil memikul sebuah beg pakaian. Aku hanya
membawa barang-barang keperluanku sahaja, yang lain nanti boleh
usahakan bila dah dapat tempat tinggal tetap. Aku harap, tempat
tinggalku nanti tidaklah jauh sangat dari tempat aku mengajar kerana ia
akan memudahkan aku untuk berulang-alik.

“Buat sementara waktu
ni, Nadia dan Idah tinggal kat rumah pak long dulu. Lagi pun bukanlah
jauh sangat sekolah tu dengan rumah pak long.” Pengkhabaran beginilah
yang agak memberatkan hatiku. Selagi boleh. Aku tak nak menyusahkan
sesiapa. Aku lebih senang mempunyai rumah sendiri dari menumpang rumah
orang lain. Apatah lagi tuan rumah yang kita tumpangi itu tidak
mempunyai apa-apa pertalian pun dengan kita. Tapi apa boleh buat,
terpaksalah aku bersabar buat seketika ini.

Di Kelantan,
sekolahnya bermula pada hari Ahad. Cuti hujung minggu pada hari Jumaat
dan Sabtu. Hari ni baru hari Jumaat, jadi lusa baru aku akan melaporkan
diri di sekolah agama tu nanti. Aku pun masih terfikir-fikir tentang
subjek apa yang akan ku ajar nanti. Risau juga aku takut-takut nanti
subjek yang terlalu sukar untuk aku. Lagi pun aku manalah ada
pengalaman menjadi guru ni. Ni boleh dikira bidang terjunlah.

Suasana
pagi di Kampung Laut ini cukup tenang. Kampung yang berada di atas
tebing Sungai Kelantan ini kedudukannya bersetentangan dengan Bandar
Kota Bharu. Kita akan dapat melihat bandar itu dari tebing sungai
Kampung Laut ini. Rumah bapa saudara Nadia ini agak besar juga. Boleh
dikatakan kebanyakan rumah-rumah di kampung ini bertiang tinggi. Ini
bagi mengelakkan daripada ditenggelami air apabila banjir melanda.
Boleh dikatakan bapa saudaranya itu dari kalangan orang berada juga.

aku
agak kepenatan kerana perjalanan yang memakan masa tujuh jam semalam.
Aku tidak sedar bila aku terlena di bilik rumah pak long Nadia tu
selepas solat subuh tadi. Aku tersedar dari lena apabila telingaku
disapa suara yang sayup-sayup kedengaran. “Baru bangun tuan puteri?”
Soal Nadia apabila melihat aku menggeliat kemalasan. Dia baru aje
selesai mandi.

“Letih sangat naik bas semalam.” Alasanku. Segan
juga aku bila memikirkan anak dara yang bangun tengah hari kat rumah
orang ni. Nanti dikata orang anak dara pemalas pulak.

“Suara apa
tu?” Soal aku pada Nadia. “Itu suara orang memberi kuliyah pagi Jumaat
di masjid. kat sini, setiap hari Jumaat ada kuliyah agama di masjid.”
Beritahu dia. Baru aku perasan yang rumah pak long Nadia ni tidaklah
jauh sangat jaraknya dari masjid. Masjid utama Kampung Laut yang
didirikan sebagai mengganti Masjid Lama Kampung Laut yang telah
dipindahkan ke Nilam Puri.

“Kenapa?” Soal Nadia agak kehairanan
bila memerhatikan aku sedang meneliti suara penceramah yang kedengaran
melalui corong pembesar suara masjid itu. “ Tak ada apa-apa. Saja
tanya.” Sebenarnya suara itu telah mengingatkan aku pada seseorang.
Orang yang tidak pernah ku tatapi dan tengok wajahnya. Namun aku
mengenali suaranya. Suara yang suatu ketika dahulu selalu mengganggu
kelancaran dan kelicahan kehidupan kampusku tetapi telah bertukar
menjadi satu suara yang selalu kurindu dan ku tunggu-tunggu untuk
mendengarnya.

“Helo! Boleh saya cakap dengan ustazah Faridah?”
Tanya satu suara di hujung talian sana. “Ustazah Faridah tak ada, tapi
Faridah aje adalah!”. aku agak kehairanan kerana tak pernah seorang
lelaki menelefon aku menanyakan nama Ustazah Faridah. “Ah, samalah tu.”
Jawab suara itu.
“Saya bukan ustazah, awak jangan nak memandai. Siapa awak ni?!” Geram rasanya apabila ada orang cuba untuk mempermainkan aku.
“Tak apalah ustazah. Nanti lain kali saya telefon lagi. "Assalamualaikum…”
Talian dimatikan begitu sahaja tanpa sempat aku berbuat sesuatu.
“Aaagh…” Keluh hatiku. Geram. Ada orang cuba untuk mempermainkan aku
dengan panggilan ‘ustazah’ tu. Pada hal aku tak layak langsung untuk
memakai gelaranku. Dari segi pakaian ku yang lebih ku suka mengenakan
seluar panjang atau jeans dipadankan dengan t-shirt lengan panjang dan
skaf saja. Lagipun aku suka dengan gaya begitu yang membolehkan aku
bergerak lincah. Takkan orang macam aku ni dipanggil ustazah. Tak padan
langsung. Ni dah sah orang cuba untuk mempermain-mainkan aku.

Selang
beberapa hari, suara itu menelefonku lagi. Boleh dikatakan semua
gerak-geriku dia tahu. Semacam aku diperhatikan mata-mata gelap dari
Bukit Aman lah pulak. Dah puas aku tanya siapakah tuan empunya suara,
namun banyak dalihnya yang membuatkan aku tidak pernah tahu siapakah
dia. Banyak hal urusan peribadiku cuba dicampurinya. Dari perjalanan
hidup harianku sehinggalah cara aku berurusan dan berpersatuan
termasuklah cara aku berpakaian.

“Siapa awak yang nak cuba
campuri urusan peribadi saya hah?!”. aku mula hilang kesabaran bila dah
semakin melampau langkahnya itu. Namun dia masih mampu untuk bertenang
dengan sikapku yang mula panas itu.

“Memang saya tahu siapa
saya. Saya bukan abang apatah lagi suami ustazah. Tapi tak salah bukan
kalau saya sebagai seorang sahabat cuba untuk menasihati dan memberikan
pendapat?” “Jangan panggil saya ustazah! Saya dah meluat dengan awak!”
“Saya tidak pernah memaksa ustazah memenuhi ataupun mengikuti nasihat
dan pendapat saya. Pilihan keputusan terletak sepenuhnya di tangan
ustazah. Saya tiada hak walaupun sedikit untuk menentukannya.” Dia
tidak menghiraukan amaran dan kemarahanku itu. Dia tetap memanggilku
ustazah.

“Ahh, pergi jahanam dengan ustazah awak tu!” Semburan
kemarahanku itu membuatkan aku mematikan talian telefon bimbitku.
Selepas kejadian itu. Aku tidak lagi menerima panggilan dari suara
misteri itu. Sekurang-kurangnya aku berasa sedikit aman sehinggalah
pada hari ulang tahun kelahiran ku yang ke 24. Satu bungkusan telah
dikirimkan ke alamat rumahku di Selayang. Aku agak berdebar bila
menerima hadiah yang tidak tercatat siapakah nama pengirimnya. Apabila
kubuka balutan kotak hadiah itu, kudapati di dalamnya terdapat sepasang
baju kurung bewarna krim, sehelai busana bewarna meron serta dua helai
telekong yang berwarna pink dan putih. Aku terkejut dengan hadiah itu.
Terdapat dalamnya juga sekeping nota ringkas.

"Assalamualaikum……"
Selamat
ulang tahun ke 24 buat Ustazah Faridah binti Mansur. Saya doakan semoga
Allah memanjangkan usia ustazah dengan ketaatan ibadah serta memurahkan
rezeki ustazah dengan yang halal. Amin…..
Pemanggil misteri.

Bagaimana
dia boleh tahu tarikh lahir aku. Macam mana pula di memperolehi alamat
rumahku ini. Orang ini memang gila agaknya. Aku membelek-belek baju dan
telekong yang dihadiahkannya kepadaku itu.
“Cantik juga. Macam dia
tahu pulak tentang warna kesukaan ku.” Bisik hati ku. Tapi macam mana
aku nak memakainya. Baju kurung tu tak kisahlah sebab aku biasa juga
memakainya. Tapi bagaimana dengan busana dan telekong ni? Nanti apa
kata keluarga dan kawan-kawanku. Aah..kacau-kacau.

“Aii.. termenung saja! Terkenangkan orang jauh ke?” Usikan mak cik Gayah, mak long Nadia itu membuatkan lamunanku terganggu.
“Takdelah makcik.” “Sambil masak pun boleh termenung, nanti gulai yang kat atas dapur tu boleh hangit tau.” Sampuk Nadia pula.
“Mana
ada, kamu ni Nadia kalau tak sakat aku tak senang duduk agaknya.” Mak
cik Gayah dan Nadia tersengih mendengar jawapanku itu.

Malam itu
kami semua berjemaah di masjid. Kata mak cik Gayah, malam ni ada ustaz
jemputan yang akan memberikan ceramah tentang Maulidur Rasul. Kami agak
terlewat ke masjid kerana sibuk di dapur. Jadi terpaksalah kami
memenuhi saf belakang. Agak ramai juga kaum wanita yang datang ke
masjid malam ni. Aku bertakbir ratul ihram pun sewaktu imam dah mula
baca surah fatihah. Sekali lagi aku terpana bila mendengar suara imam
membacakan fatihah. Aku rasa seperti pernah mendengar suara itu tapi di
mana yak. Aku bertakbir menjadi makmumnya. Terlalu asyik mendengar
bacaan imam. Alunannya yang mengikut lagu yang biasa dibacakan oleh
Saad al-Ghamidi dan Sudais. Aku rasakan bahawa solat maghribku malam
itu terlalu pendek dan cepat.

Semasa ceramah maulidur rasul. Aku
tidak dapat memberikan sepenuh tumpuan dan perhatian kerana suara
penceramah itu benar-benar mengganggu ingatanku. “Ustazah nampak sopan
bila berbaju kurung begitu dan lebih bersopan lagi jika berbusana.
Jangan hiraukan apa yang orang kata, tapi ambil hirau tentang apa yang
Tuhan kata”. aku terima mesej itu melalui telefon bimbitku. Memang ku
tahu siapa pengirimnya. Hari itu tiba-tiba saja aku terlintas untuk
memakai baju kurung yang dihadiahkan pemanggil misteri itu sewaktu aku
menghadiri kuliyah. Cuma telekong saja yang ku ganti dengan skaf biasa.
Agak kekok juga sebab dah lama aku tak pakai baju kurung. Itu pun ramai
kawan yang tengok pelik saja pada aku. Pelbagai soalan yang mereka
Tanya, tapi aku buat tak tahu saja. Malas nak layan.

Apa salah baju tu, lagi pun orang yang bagi bukannya aku yang beli.
“Saya
harap ustazah pakai begitu bukan kerana saya, tapi ikhlas kerana
Allah.” Suara itu mengingatkan aku. “Awak ingat awak tu siapa? Saya
pakai tu kerana saya nak pakailah, tak ada kaitan langsung pun dengan
awak.” Tegas aku pada dia. “Baguslah macam tu. Saya harap ustazah akan
terus begini.” Itulah suaranya yang terakhir aku dengar. Selepas itu
aku tidak lagi menerima sebarang panggilan misteri seperti itu
sehinggalah sekarang. Cuma kadang-kadang sahaja aku menerima surat
atapun bungkusan yang tidak tercatat nama pengirim dan alamatnya. Dan
aku pasti, itu adalah ‘dia’. Ke mana sahaja aku pergi, pasti dia tahu.

Seperti
dia sentiasa mengekori dan memerhatikan aku. Sebelum aku bertolak ke
Kelantan pun aku ada menerima satu bungkusan yang bersetemkan luar
negeri. Di dalamnya aku dapati terdapat dua buah buku yang bertajuk
Fitnah Wanita dan Bakal Wanita Syurga. Juga terdapat sekeping nota
ringkas bersama bungkusan itu.

"Assalamualaikum…."
Di
harapkan ustazah sudi menerima hadiah dari saya ini sebagai ucapan
tahniah saya kerana ustazah telah terpilih untuk menjadi guru sandaran.
Semoga ada manfaatnya buku ini kepada ustazah.
Pemanggil misteri.

aku
tidak lagi menaruh sebarang kebencian kepada pemanggil itu. Sebarang
hadiah atau pemberian darinya aku terima dengan rela hati.
Sekurang-kurangnya aku tidak payah membeli untuk itu. Teringin juga aku
untuk bertemu dan mengenali siapakah sebenarnya ‘pemanggil misteri’
itu. Misteri sangatkah dia sampai dia tidak mahu memperkenalkan dirinya
kepadaku? Namun aku sangat berharap agar suatu hari nanti aku akan
menemuinya.

“Masa kat masjid lagi mak cik lihat Idah asyik
termenung. Kenapa ni?” Tanya orang tua itu sewaktu kami berjalan pulang
dari masjid
“Tak ada apa-apa lah mak cik. Badan ni yang masih penat
lagi ni.” Alasanku padanya. “Yealah tu. Macamlah aku tak tahu. Nak
sorok kat siapa hah?!” Nadia mula nak buka ‘gelanggang’ denganku.
“Kalau ada pun. Aku ingat kat famili aku sajalah.” Seboleh-bolehnya aku tidak mahu orang lain tahu keadaan sebenarnya.

“Habis
tu si pemanggil misteri tu siapa?” Rupa-rupanya Nadia sudah mengetahui
tentang hal itu. Tapi dari mana dia tahu. Aku rasa. Aku tidak pernah
memberitahu sesiapa pun tentang ‘pemanggil misteri’ itu.
Semenjak
aku menjawat jawatan guru sandaran ni, jadual harianku telah berubah.
Banyak perkara yang perlu aku lakukan sebagai persediaan untuk
mengajar. Aku tak sangka apabila telah diarahkan oleh pihak pentadbir
sekolah untuk mengajar subjek Tasawur Islam untuk tingkatan 4 dan
Pendidikan Islam untuk tingkatan 3. Pada mulanya aku minta ditukar
untuk mata pelajaran lain tapi aku tidak ada pilihan lain. Maka aku
terpaksa menerima panggilan ‘ustazah’ itu. Ah Kenapa ini boleh berlaku.
Sebelum ini, panggilan itu agak terlalu janggal untuk aku. Tapi setelah
beberapa lama aku mengajar. Aku sudah lali dan mungkin boleh juga
dikatakan agak serasi denganku.

Namun aku terpaksa melakukan
banyak perubahan terhadap penampilan dan peribadiku agar ia benar-benar
secocok dengan panggilan itu. Aku tidak lagi selincah di kampus dulu.
Keadaan berpakaian pun sudah berubah. Seluar, jeans dan t-shirt hanya
kat rumah dan apabila bersama keluarga sahaja. Keluar aje dari rumah.
Aku akan mengenakan baju kurung ataupun busana. Skaf telah ku ganti
dengan tudung. Pada mulanya aku agak rimas berpakaian begitu, namun
keadaan yang telah memaksa aku untuk berbuat demikian. Aku benar-benar
berubah. Aku bukan lagi seperti Faridah yang dikenali sewaktu di kampus
dulu. Oleh itu ramai teman-teman rapatku yang agak terkejut dengan
perubahanku ini. Tidak kurang pula yang bersyukur pada Tuhan kerana
telah membukakan pintu hidayahnya kepadaku.

aku juga telah
memaklumkan pada keluargaku, mereka tidak membantah. Malah mereka juga
turut bersyukur. Cuma mereka harap aku melakukannnya atas dasar
kesedaran dan keikhlasan serta istiqamah kerana Tuhan. Bukannya sekadar
hangat-hangat tahi kerbau. Di antara orang yang paling gembira dengan
perubahanku itu ialah ‘pemanggil misteri’ itu.

“Syukur dan
syabas saya ucapkan kerana ustazah telah berubah.” Ucapnya melalui
telefon setelah sekian lama dia tidak menghubungiku melalui telefon.
“Terima kasih saya ucapkan pada awak kerana telah banyak mengubah
peribadi saya.” Ucapku ikhlas. “Itu tugas saya sebagai seorang
sahabat.” “Tapi bilakah saya dapat mengenali siapakah awak yang
sebenarnya?”. aku sememang dah tidak sabar untuk mengetahui siapakah
dirinya yang sebenar. “InsyaAllah, bila sampai ketentuanNya nanti tetap
ustazah akan tahu juga siapa saya.” Itulah jawapan yang selalu aku
perolehi darinya apabila soalan demikian aku kemukakan.

“Dah lama awak tak hubungi saya, ke mana awak pergi?” Tanyaku.
“Saya
keluar negeri, sambung pengajian.” Patutlah surat dan bungkusan darinya
dulu bersetemkan setem Australia. Itulah pertama kali aku dengar
suaranya setelah kira-kira lebih dua tahun dia tidak menelefonku. Hanya
surat yang menjadi perantaraan. Itupun suratnya untuk aku sahaja. Aku
pula tidak pernah mengirimkan sepucuk surat pun kepadanya kerana aku
tidak tahu kepada siapa patut aku tujukan dan alamatnya pun entah di
mana. Dia tidak pernah memberikannya kepadaku.

Malam itu, ibu
ada menelefonku. Dia tanya sama ada aku balik atau tidak pada cuti
tahun baru cina nanti. Aku kata, kalau ikutkan perancanganku memang nak
balik. Tapi tak tahulah agaknya-agaknya ada hal pulak nanti. “Kenapa?”
Soalku pada ibu. “Ada orang nak datang tengok angah.” Jawapan ringkas
ibu itu telah cukup untuk membuatkan aku terkejut besar. Aku memang tak
sangka. Jantung ku berdegup kencang. “Angah belum bersedia lagi untuk
berumah tangga bu.”. aku masih mahu bebas dari ikatan itu. “Ibu tak
paksa angah untuk terima, tapi baliklah dulu. Kita tengok, lepas itu
angah yang buat keputusannya nanti. Ibu dan abah terima saja.” Pujuk
ibu. Terasa sedikit kekuatan dengan jaminan yang diberikan ibu itu.

Kalau
boleh. Aku ingin menentukan sendiri pasangan hidupku tanpa sebarang
paksaan dari kedua orang tuaku. Semenjak dari pengkhabaran ibu itu. Aku
begitu berdebar untuk menunggu cuti tahun baru cina yang hanya tinggal
seminggu sahaja lagi. Aku lebih banyak termenung memikirkan hal itu.
Setiap kali aku balik dari mengajar ke rumah sewa aku di Kampung Kota
Kubang Labu. Aku lebih suka bersendirian dalam bilik. Nadia merasa
pelik dengan perubahan mendadak ku itu. Aku menceritakan sebabnya
kepada Nadia.

“Bersabarlah. Apa nak dirisaukan, ibu engkau dah
beri jaminan bahawa dia tak memaksa. Jadi pilihannya di tangan engkau
sendiri.” Nasihat Nadia. “aku risau sebab aku takut untuk mengingkari
harapan mereka.”
Mulai hari itu juga. Aku memohon petunjuk Allah dalam menentukan dan memberikan kekuatan kepadaku.

Ya
Allah, sekiranya Engkau telah menentukan jodohku, maka aku harap Engkau
mengurniakan aku seorang suami yang soleh. Mampu membimbing aku dan
bakal zuriat yang akan lahir dari rahimku ini.
Ya Allah, bantulah
aku dalam menentukan perkara ini. Janganlah Engkau biarkan diriku
sendiri menentukan perjalanan hidupku walau hanya sekelip mata. Aku
memohon dariMu kebaikan yang berpanjangan dan bahagia yang berkekalan.

Kepulanganku
ke rumah di Selayang disambut gembira dengan seisi keluarga. Semuanya
berkumpul, tambah-tambah lagi kerana cuti tahun baru cina. Lagipun
mereka semua ingin tahu siapakah gerangan yang mahu datang itu. Abang
long, abang chik semua balik. Kakak ipar dan anak buah juga tidak
ketinggalan untuk turut serta.

“Tak lama lagi, Man dapat abang
iparlah. Ibu kan!” Itu suara adikku si Rahman. “Ish kamu ni Man. Tak
boleh ke kalau tak usik angah tu.” Ibu cuba membelaku. Aku hanya
melayan perasaan. Perasaanku berbelah bagi. Entah apa keputusan yang
akan kuberikan kepada abah dan ibu nanti. “Ibu tak memaksa angah untuk
menerimanya. Angah yang akan menentukannya sendiri.” Ibu mengulangi
jaminannya padaku sewaktu dia melihatku murung.

“Along terima
siapa sahaja yang menjadi pilihan angah untuk jadi suami. Suami angah
adalah adik ipar along juga.” Kata along sambil menepuk-nepuk bahuku.
“Acik pun macam tu juga. Kami nak tengok angah bahagia. Itu sudah
memadai bagi kami.” Sokong Acik pula. Sekarang aku benar-benar yakin
bahawa aku memiliki sepenuh kuasa untuk menentukannya. Semua keluarga
menyokong aku. Sekurang-kurangnya ia membuatkan aku berasa lega.

Semua
ahli keluargaku sibuk untuk menyediakan jamuan keluarga sempena
kedatangan tetamu yang begitu mendebarkan hatiku itu. Mengikut kata
ibu, mereka akan datang lepas maghrib dan akan makan malam bersama-sama
keluargaku. Apabila masuk waktu maghrib, semua ahli keluargaku
berjemaah di rumah. Abah yang jadi imam dan along yang jadi bilal. Cuma
aku saja yang terkecuali sebab uzur. Jadi kenalah aku tengok-tengokkan
Ain, anak saudaraku yang baru berumur 9 bulan. Makin tak keruan aje
rasanya jiwa ini. Tapi bila memikirkan yang semua ahli keluarga
menyebelahiku. Aku rasa bersemangat. Aku begitu gembira bila berpeluang
untuk berkumpul dengan seluruh ahli keluargaku ini. Aku sangat bangga
mempunyai keluarga yang sebahagia ini. Dan doaku semoga keluarga yang
akan kubina nanti sekurang-kurangnya akan menjadi seperti keluargaku
ini.

Sewaktu, azan Isyak berkumandang dari Masjid Selayang
kedengaran ada orang memberi salam di luar rumah. Aku bangkit bergegas
ke bilikku. Aku malu, takut dan segan. Semua jenis perasaan mula
berkumpul di hati ini. Badanku terasa seram sejuk dan panas
serta-merta. Aku tak tahu apa yang mereka kat luar tu bincangkan. Cuma
terdengar suara hilai ketawa sahaja. Selang beberapa minit. Aku
terdengar suara orang bertakbir.

“Seperti suara yang pernah
kudengar.” Bisik hatiku sendirian. Kemudian, diikuti dengan bacaan
surah al-Fatihah yang dialunkan mengikut bacaan Saad al-Ghamidi. “Ya
Allah! Siapakah dia?” Hatiku semakin kuat tertanya-tanya siapakah
sebenarnya empunya suara. Seperti suatu suara yang selalu kudengar.
Seperti suara yang sering menasihatiku itu.

“Ya Allah. Aku
bermohon kepadaMu dengan kebaikan. Kurniakanlah aku suatu kurniaan di
sisiMu yang boleh membahagiakan seluruh kehidupanku. Tetapkanlah kasih
sayang di hati ini agar tidak goyah dalam mengharungi arus deras ini.”
“Ya Allah! Kiranya dia adalah utusan dan ketentuanMu buatku. Aku harap
Engkau permudahkanlah dan bukakanlah hatiku ini untuk menerimanya
dengan ikhlas. Jika ia ditakdirkan bukan milikku, maka jauhkanlah
hatiku darinya. Hilangkanlah bayangan wajahnya dari tatapan dan
pandanganku agar hatiku bisa tabah menerimanya.” “Ya Allah!
Sesungguhnya aku redha dengan segala ketentuanMu buatku. Amin….”

Ketukan pintu bilikku membuatkan aku terkejut. Ibu masuk merapatiku.
“Marilah
keluar! Mereka mahu kenal angah.” Bisik ibu perlahan. Aku merenung ibu
dengan pandangan yang berkaca-kaca. Ibu mengangguk lembut, terseyum
memandangku sambil jari telunjuknya mengesat air mataku yang mengalir
perlahan. “Sudahlah. Ibu ada bersama angah. Usah takut.” Pujuk ibu
lagi. Aku bangun perlahan seperti tidak bermaya. Mengenakan jubah yang
baru siap aku tempah dan telekong pink. Inilah kali pertama aku
mengenakan jubah. Aku lap mukaku dengan tisu untuk menghilangkan
sisa-sisa air mata.

aku memandang ibu. Ibu mengangguk dan
memimpin tanganku keluar untuk menemui tetamu yang mungkin istimewa.
Aku menundukkan mukaku. Tidak berani untuk melihat siapakah tetamu itu.
Ibu memimpin aku ke ruang tempat kami sentiasa solat. Rupa-rupanya
mereka semua menunggu aku di situ. Aku duduk bersimpuh di sisi ibu dan
diapit oleh kak long serta kak chik. Tetamu itu duduk bersetentangan
denganku. Pada agakkanku, dia sedang memerhatikan gerak-geriku. Aku
tidak berani untuk mengangkat mukaku untuk memandangnya.

“Pak
cik! Izinkan saya untuk bercakap dengan Faridah sekejap.” Tetamu itu
memohon keizinan dari abah. “Silakan.” Keizinan yang diberikan abah itu
membuatkan aku berdebar-debar. Tetamu itu merapatiku dan kini dia
betul-betul bersila di hadapanku. Aku dapat mendengar bunyi nafasnya
dan dapat menciumi bau minyak athar yang dipakainya.

“Ya Allah!
Tenangkanlah hatiku dan tolonglah aku di saat ini. Ya Allah. Aku
benar-benar bermohon kepadamu.” Doa hatiku. “Ustazah Faridah! Jika ini
dinamakan takdir, maka telah tiba masanya ustazah mengenali saya.”
Betulkah suara itu yang aku dengar. Aku belum mampu untuk memandang
wajahnya. Tapi suara itu membuatkan hatiku bergetar.
“Dulu saya bukanlah abang apatah lagi suami ustazah, tapi sekarang saya datang untuk mengambil ustazah sebagai suri hidup saya.”
“Ya
Allah! Benarkah seperti apa yang aku dengar sekarang ini? Ini
benar-benar suara dia. Aku yakin, memang inilah suara dia.” Bisik
hatiku.

‘Sudikah ustazah membukakan pintu hati ustazah untuk
menerima cinta dan kasih sayang saya kerana Allah?” Soalnya perlahan.
Perlahan-lahan aku mendongak mukaku dan pandangan kami bertembung.
“Haikal!” Bisikku perlahan. Dia tersenyum memandangku. Air mataku mula
mengalir. “Ya Allah! Benarlah janjimu terhadapku. Aku menerima
kurniaanmu ini dengan penuh redhaku.”

aku berpaling pada ibu.
Ibu memandangku dengan penuh kasih sayang. Aku memeluknya erat. “Ibu,
angah dah bersedia untuk jadi seorang isteri bu!” Bisikku perlahan. Ibu
memelukku erat tanda akur dengan kehendak dan keputusanku.

(penulis asal)
seruling senja….

-
Artikel ini datangnya dari: Portal Ukhwah http://www.ukhwah.com/…sekadar berkongsi bersama-sama sahabat2 yg lain…sebuah cerpen yg menarik utk tatapan bersama-
-URL untuk Artikel ini: http://www.ukhwah.com/article.php?sid=2098–