Kajian ucapan EId menurut hadith dan fiqh

Oleh : Abi AbduLLAAH, Nabil bin Fuad Al-Musawa

Kajian Hadits

Syaikh
Albani berkata [1]: “Hadits di atas dicantumkan oleh As Suyuthi dalam
risalahnya [2], dan diperkuat oleh Zahir bin Thahir [3].  Diriwayatkan
juga oleh Al-Mahamili [4], ia berkata: Telah menceritakan pada kami
Mubasysyir bin Isma’il Al-Halbi dari Shafwan bin Amru As-Saksakiy
berkata: “Aku mendengar AbduLLAH bin Bisru, AbduRRAHMAN bin ‘Aidz,
Jubair bin Nufair dan Khalid bin Ma’dan berkata pada kedua Hari Raya:
Taqabbalallahu minnaa wa minkum dan mereka mengkatakan demikian
diantara mereka.” Dikeluarkan juga oleh Abul Qasim Al-Asbahani [5] dan
2 riwayat ini shahih, karena para sahabat melakukan ini, sehingga
diikuti oleh para tabi’in yang disebut di atas, waLLAHu a’lam.

Ibnu
Turkmani menyebutkan [6] dari riwayat Muhammad bin Ziyad Al-Alhani
berkata: “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari
kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila
kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain:
Taqabbalallahu minnaa wa minka [7].” Dan diperkuat oleh As-Suyuthi
dengan matan: “Aku melihat Abu Umamah Al-Bahiliy berkata pada Hari Ied
kepada sahabatnya: Taqabbalallahu minnaa wa minkum.” Kemudian sebagian
ikhwah kami para pelajar menambahkan bahwa telah berkata Al Hafizh Ibnu
Hajar [8]: “Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair
bin Nufair, ia berkata dst.” [Sekian Kutipan dari Albani]

Adapun
riwayat dari Tabi’ut Tabi’in dan Ulama Salaf diantaranya, seperti
riwayat Adham salah seorang bekas hamba sahaya Umar bin Abdul ‘Aziz
berkata: “Kami mengucapkan saat kedua Hari Raya kepada Umar bin Abdul
Aziz: Taqabbalallahu minnaa wa minka wahai Amirul Mu’minin, maka beliau
menjawabnya dan tidak melarang kami mengucapkan hal tersebut [9].”

Kajian Fiqh

Menurut
Ulama Hanafiyyah bahwa hal tersebut tidak diingkari (la inkara bihi)
dan boleh (ijaza) mengucapkannya [10]; menurut Ulama Malikiyyah tidak
apa-apa menjawabnya, berkata Imam Malik: Aku tidak mengenalnya tapi aku
juga tidak mengingkarinya. Berkata Ibnu Habib: Aku melihat
sahabat-sahabat Imam Malik tidak memulai ucapan tersebut tapi mereka
menjawabnya, tapi tidak mengapa memulainya [11]; menurut Ulama
Syafi’iyyah boleh mengucapkannya, dan sebagian menyatakan boleh
ditambahkan ucapan semisalnya, seperti AhyakumuLLAH atau Kulla ‘amin wa
antum bikhair  atau ‘A’adahuLLAH ‘alaykum Bikhair [12]; menurut ulama
Hanabilah mubah mengucapkannya, tidak sunnah juga tidak bid’ah, Imam
Ahmad berkata: Aku tidak pernah memulainya, namun bila ada orang yang
mendahuluiku mengucapkannya maka aku akan menjawabnya [13].

Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada Hari Raya yang
dilakukan orang-orang seperti ucapan ‘Ieduka Mubarak dan yang serupa
dengannya, apakah ada asalnya dalam syari’at atau tidak? Jika ada
asalnya maka apa yang diucapkan? Maka beliau menjawab [14] : “Ucapan
pada Hari Raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika
bertemu setelah shalat Id: Taqabbalallahu minnaa wa minkum (yang
artinya): Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian, Wa
ahaalallahu ‘alaika dan yang semisalnya, maka telah diriwayatkan dari
beberapa shahabat ra bahwa mereka melakukannya dan diberi rukhshah oleh
para Imam, maka barangsiapa yang melakukannya baginya ada contoh dan
barangsiapa yang tidak melakukannya baginya juga ada contoh.” WaLLAHu
a’lam.

Catatan Kaki:

[1] Tamamul Minah [I/354]

[2] Wushul Al Amani bi Ushul At Tahani” [hal-109] dalam juz-I dari kitab Al Haawi lil Fatawi

[3] Tuhfatu Iedul Fithr

[4]
Shalatul Iedain, [II/129/2] dengan sanad yang semua rijal-nya tsiqat
dan dengan sanad yang shahih, tetapi ada perbedaan Habib bin al-Walid
dalam sanad-nya sehingga tidak marfu’ sampai pada sahabat Nabi SAW

[5] At-Targhib wa Tarhib, [I/42-II/41]

[6] Jauharun Naqiy, [III/320]

[7] Imam Ahmad menyatakan : “Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)”

[8] Fathul Bari, [II/446]

[9] HR Thabrani dalam Syu’abul Iman, [VIII/234 no. 3565]

[10] Al-Bahrur Ra’iq Syarh Kanzud Daqa’iq, [V/206]

[11]
At-Taj wal Iklil Li Mukhtashar Khalil, [II/301]; juga Mawahib al-Jalil
fi Syarhi Mukhtashar Syaikh Khalil, [V/308]; juga Al-Fawakih ad-Diwani
‘ala Risalati Ibnu Abi Zaid Al-Qayruniy, [III/244]

[12] Hawasyi
Asy-Syarwaniy, [III/56]; juga dalam Asna Al-Mathalib, bab Faidah
At-Tahni’ah bil ‘Ied [IV/121]; Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj,
[X/203-204]; juga dalam Mughnil Muhtaj ila Ma’rifatil Alfazh, [IV/141];
juga Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, bab At-Tahni’ah bil ‘Ied,
[VII/410-411]; juga Hasyiyyah Al-Bujairamiy ‘alal Khathib, [V/426, 434]

[13]
Asy-Syarhul Kabir, [II/259]; Al-Iqna’ , [I/174]; Al-Furu’ Libni Muflih,
[III/137]; Al-Inshaf, [IV/153]; Syarhun Muntaha’ Al-Iradat, [II/329];
Kasyaful Qana’ An Matanul Iqna’, [IV/225]; Al-Mughni [IV/274]; Manarus
Sabil Syarhud Dalil, [I/104]

[14] Majmu’ Al-Fatawa, bab Mas’alah at-Tahni’ah fil Ied, [V/430]

Leave a Reply